Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Eka Nada Shofa Alkhajar

Herzlich Willkommen. Selamat datang di situs PERMIAN Jerman,

Media ini, meminjam terminologi Marshall McLuhan dalam bukunya Understanding Media: The Extensions of Man (1994) ibarat perpanjangan tangan manusia. Untuk itu, ia diharapkan mampu menjadi sarana komunikasi, informasi dan silaturahmi yang bermanfaat bagi berbagai kalangan berkenaan dengan Jerman. Meskipun hal ini jelas tidak akan menggantikan suasana kegembiraan manakala kita dapat saling bersua dan bertatap muka. Seperti ditekankan Hofstede et al. berikut ini:

While we are clever about technology and are getting more so each day, we are still naïve about ourselves. … The only way toward survival is getting to understand ourselves better as social beings, so that we may control our technological cleverness and not use it in destructive ways (2010: 426).

Melalui media ini, kami menawarkan sapaan hangat berupa persahabatan bagi siapapun tanpa membedakan latar belakang suku, ras, agama dan antar golongan (SARA) atau apapun yang dirasa telah usang untuk diperdebatkan. Namun, dalam realitasnya—terkadang—hal tersebut masih ampuh menjadi jualan murahan oknum tak bertanggungjawab untuk memperkeruh suasana hati sebuah bangsa besar yang tengah dan terus bertumbuh. Bangsa itu tak lain adalah Indonesia.

Kita bersama tentu mengharapkan bahwa bumi Indonesia akan terus menjadi tanah air yang penuh kedamaian. Mengadaptasi ungkapan seorang penyair besar asal Jerman, Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832)—Jika seseorang ingin belajar mengenai indahnya keragaman maka kunjungilah negeri yang penuh dengan indahnya keberagaman. Kemudian sebagai bagian anak zaman adalah tugas kita bersama untuk senantiasa saling membina, saling menjaga dan bukan malah saling mencederai. Tentu kita bersama perlu merasa bersedih manakala Indonesia tidak memiliki anak zaman yang mampu mewarisi api semangat perjuangan bangsa. Betul kemerdekaan sudah diraih. Namun, perjuangan dalam alam kemerdekaan tentu masih jauh dari kata selesai apalagi berakhir. Kita harus sadar bahwa masih banyak—meminjam ungkapan Anies Baswedan—janji kemerdekaan yang harus dilunasi.

Perihal ini dapat kita lihat dari kacamata das sein dan das sollen. Di mana tampak jelas terlihat bahwa masih banyak pekerjaan rumah bagi Indonesia yang mana hal ini tentunya tidak akan tuntas dan paripurna begitu saja. Masih banyak terdapat ruang kosong untuk berbuat bagi kejayaan Indonesia. Adanya ruang-ruang kosong ini, tentunya memberikan kesempatan kepada kita untuk berlomba dan mengisinya dengan berbagai kegiatan dan kerja positif. Di mana tujuan akhirnya tak lain adalah untuk menjadikan Indonesia semakin lebih baik lagi. Karena kami percaya Indonesia sendiri lahir dari keinginan luhur para founding fathers serta seluruh elemen bangsa untuk menghimpun dan bersatu dalam bingkai negara kesatuan republik Indonesia (NKRI). Untuk itu, tak ada salahnya untuk kita kembali mengingat bahwa NKRI adalah harga mati.

Kemudian alangkah indahnya apabila kita dapat bergandengan tangan serta saling berjabat erat untuk saling berbagi dan memberikan manfaat karena sejatinya memberi itu adalah menerima. Giving is receiving. Untuk itu, kami segenap mahasiswa Indonesia yang berhimpun dalam PERMIAN bertekad untuk dapat memberi kemaslahatan bagi masyarakat dalam skala yang lebih luas serta menjunjung tinggi semangat—seperti yang pernah dituliskan Empu Tantular dalam bukunya Kakawin Sutasoma yakni Bhinneka Tunggal Ika Tan hana Dharma Mangrwa (Yang berbeda-beda itu adalah satu juga. Tidak ada pengabdian [kepada Indonesia] yang mendua). Semoga Tuhan yang Maha Esa senantiasa meridhoi kita semua. Bersama untuk Indonesia Raya. Tabik.

Kandidat Doktor Universitas Frankfurt, Jerman
Ketua Umum PERMIAN Jerman 2015-2016

Advertisements