Tags

, , , , , , , , , , , ,

Oleh Eli Yermia

Akhir November lalu saya memutuskan untuk pulang habis kembali ke Indonesia. Berikut adalah pengalaman pribadi saya dalam mempersiapkan kepulangan. Prosesnya sebenarnya sangat mudah seandainya saya sudah tahu pasti bagaimana harus melakukannya atau setidaknya mendapatkan informasi yang mumpuni, hehehe.

Disclaimer: berikut ini adalah murni pengalaman pribadi saya yang bisa jadi sangat berbeda dengan pengalaman masing-masing orang.

***

Secepatnya tentukan dengan pasti kapan tepatnya akan pulang ke Indonesia. Hal ini berkaitan dengan pembelian tiket pesawat. Jauh-jauh hari membeli tiket maka kemungkinan akan mendapat harga yang lebih murah. Kemarin saya cukup beruntung mendapatkan tiket seharga 409 euro sekali jalan dari maskapai Garuda Indonesia padahal itu hanya sekitar 3 minggu sebelum tanggal kepulangan. Rute yang digunakan adalah Frankfurt – Amsterdam dengan maskapai KLM lalu Amsterdam – Jakarta dengan Garuda Indonesia. Oiya sebelum tiket dibeli ada baiknya memperhatikan berapa berat bagasi yang diperbolehkan. Hihihihi kalo ini sih faktor penting secarrrraaaa gembolan saya seabrek. Apakabar kalo bagasi Cuma dikasih 23 kg  Pastikan untuk mengecek tiket (e-ticket atau print outnya) agar segala informasi tertera jelas di sana untuk mencegah terjadinya kesalahan yang tidak diinginkan. Contoh kasus saya kemarin: pada saat drop bagasi di counter, si petugas mempermasalahkan bagasi saya yang mencapai 32 kg. Setelah dibawa ke counter yang mengurus kelebihan bagasi, saya memperlihatkan tiket saya yang jelas tertulis 30 kg. Oleh petugas, akhirnya saya diijinkan lewat saja karena konon katanya kelebihan berat hingga 5 kg bisa “dimaafkan”n😀

***

Mulailah mengemasi barang-barang yang akan dibawa pulang ke Indonesia. Tentu saja semakin cepat dikemasi akan semakin baik. Saya punya banyaaaaak sekali barang selama 2 tahun tinggal di Jerman😛 Setelah dipilah-pilah, barang-barang yang sudah tidak saya inginkan lagi atau kurang bernilai untuk dibawa pulang ke Indonesia, saya bagikan ke teman-teman yang membutuhkan atau dimasukkan ke kotak-kotak sumbangan yang bisa ditemukan di lokasi-lokasi tertentu (bisa digoogle). Karena saking banyaknya barang yang akan saya bawa pulang ke Indonesia dan terlalu berlebihan untuk jatah 30 kg dari maskapai, saya memutuskan untuk menggunakan jasa Pulang Kampung. Silahkan langsung meluncur ke TKP untuk mengecek bagaimana persisnya persyaratannya.

Untuk keperluan mengemas, saya beli kardus khusus di toko bangunan (Hornbach, etc) ukuran paling besar 65 x 37 x 35 centimeter. Sebelum dimasukkan ke kardus, barang-barang saya treatment secara hati-hati. Barang pecah belah saya bungkus dulu dengan koran dan bubble wrap. Pakaian, buku dll yang gampang basah saya bungkus dulu dengan plastik sampah besar trus diselotip biar agak pipih. Makanan seperti coklat juga saya kemas di dalam kotak-kotak plastik supaya tidak penyok parah. Setelah kardus diseal dengan lakban, saya lanjut lagi membungkusnya dengan plastik seperti untuk mengemas makanan, lalu diseal lagi dengan lakban. In the end, kardus benar-benar rapat terbungkus sehingga kemungkinan kotor atau basah bisa diminimalisir. Cara mengemas seperti ini juga yang disarankan oleh Pulang Kampung.

Kardus-kardus ini kemudian dikirimkan ke pool Pulang Kampung di Gronau, NRW. Dengan kondisi kardus terkemas plastik rapi sedemikian rupa, jangan harap untuk menggunakan jasa Deutsche Post karena jatuhnya jadi mahaaaal sekaliiiiiiii. Paket dengan plastik seperti itu dianggap paket istimewa yang biayanya 27 sekian euro plus harga dari berat kardus, sehingga totalnya bisa mencapai 40 sekian euro. Kemarin saya menggunakan jasa ekspedisi Hemes yang harganya jauuuuhhh lebih bersahabat. Mereka melayani penjemputan dari rumah seharga 15,90 per kardus ukuran L seperti punya saya (tanpa menghitung berat kardus). Kalau kemaren sih saya langsung datang ke agennya di Toko Asia Berliner Allee sehingga saya hanya membayar 10,90 ero per kardus. Setelah sampai di pool Pulang Kampung ya saya tinggal percayakan saja pada mereka untuk mengangkutnya ke alamat di Indonesia. Biaya yang saya keluarkan untuk Pulang Kampung untuk 4 kardus adalah 128 euro saja. Lumayan murah yaaaa…. :’)

***

Tadinya saya agak males untuk mengurus Abmeldung (unregistrasi) di Auslaenderbehorde Darmstadt. Tapi niat jelek itu saya batalkan setelah mendengar cerita bahwa ada orang Indonesia yang rumahnya sampe didatengin sama Polisi Jerman karena tidak merespon segala surat-surat yang datang padanya. Ya jelaslah ngga direspon wong itu orang sudah pulang habis ke Indonesia tanpa unregister. Berhubung saya masih pengen datang lagi ke Jerman maka saya sebisa mungkin ngga bikin masalah deh dengan pemerintah Jerman.

Mengurus Abmeldung ini amatlah mudah. Datang saja ke ABH minimal seminggu sebelum tanggal pulang habis, misal saya pulang habis tanggal 29 November maka minimal saya mengurusnya pada tanggal 23 November. Waktu itu saya datang tanggal 19 November dan ditolak aja gituuuh sama petugasnya. Dokumen yang perlu dibawa hanyalah paspor, tapi buat jaga-jaga bolehlah bawa kopi tiket pesawat. Proses unregisternya bentaaaar banget, less than 5 minutes. Setelah itu kita dapat deh surat Abmeldungnya.

***

Sebagai WNI, untuk ketertiban administrasi dan keamanan, ada baiknya untuk lapor diri ke KJRI saat pertama kali tiba ke Jerman. Dengan begini KJRI memiliki catatan mengenai kita dan jika misalkan terjadi sesuatu maka pemerintah dapat segera membantu kita. Kalo jadi WNI di Indonesia kita punya KTP sebagai tanda pengenal, maka di luar negeri paspor lah yang jadi tanda pengenal kita menggantikan si KTP itu. Saat pulang habis, sebaiknya sih mengurus surat pulang habis ke KJRI untuk mempermudah mereka mendata para WNI di Jerman dan untuk kebaikan sendiri juga. Surat keterangan pulang habis menyatakan bahwa kita adalah WNI yang pernah bertempat tinggal di luar negeri dan sekarang akan kembali ke Indonesia. Surat ini nanti bisa digunakan sebagai pengantar untuk mengurus KTP baru saat kembali ke Indonesia, jadi semacam surat pindah gitu kali yaah. Untuk PNS, surat ini lebih penting lagi karena akan digunakan untuk mengurus administrasi berkaitan dengan penugasan kembali di instansi kerja asal dan penghitungan masa kerja pegawai, dll.

Untuk mengurus surat habis di KJRI diperlukan kopi paspor, tiket pesawat pulang dan surat Abmeldung dari ABH, juga bakal dipungut biaya sebesar 10 euro yang bayarnya wajib menggunakan EC Karte (non-cash).

***

Selain hal-hal tersebut di atas, saya juga harus mengurus hal-hal yang berkaitan dengan tempat tinggal. Urusan ini sungguh bikin panas dingin setengah mati karena mempertaruhkan uang deposit yang jumlahnya ngga sedikit, huhuhuhu.

  1. Saya harus membatalkan kontrak tempat tinggal/apartemen/asrama mahasiswa, etc. Karena saya tinggal di asrama mahasiswa maka urusan ini dilakukan di Studentenwerk yang sangat ketat sekali peraturannya. Normally, pembatalan kontrak harus dilakukan minimal 3 bulan sebelum tanggal keluar. Itu sebabnya kita benar-benar harus memastikan tanggal kepulangan. Untuk kasus saya yang tergolong koboy dan buru-buru pulang, saya (sok) pede aja membatalkan kontrak 3 minggu sebelum tanggal pulang. Asumsi saya karena peminat kamar kost di Darmstadt ini banyak sekali jadi saya jumawa akan segera ada penggantinya untuk meneruskan kontrak saya hingga kontrak otomatis berakhir (biasanya di akhir waktu semester ca. Maret 2015). Sebenernya gampang sekali membatalkan kontrak dengan tiba-tiba seperti kasus saya ini. Saya hanya perlu membawa surat lulus/exmatrikulasi atau membawa seseorang yang berminat untuk menggantikan saya. Sayang, waktu itu saya ngga punya kedua syarat tersebut sehingga permohonan saya ditolak. Segala daya upaya bantuan surat keterangan dari supervisor di kampus sampe International Office juga ngga bisa membantu. Akhirnya setelah emosi jiwa kedua belah pihak, mereka meminta kopi tiket pesawat one way saya, hanya untuk memastikan bahwa saya memang pulang habis dan keluar dari Jerman. Dan setelah itu keluarlah surat sakti pembatalan kontrak apartemen. Alles klar, huft. Bayangkan yaaa, kalo saya ngga bisa membatalkan kontrak maka saya tetap harus bayar sampe Maret 2015.

  2. Beberapa hari setelah resmi bercerai, eh membatalkan kontrak😛, Hausmeister saya datang ke apartemen untuk mengecek situasi dan kondisi kamar lalu memberi catatan/saran apa saja yang harus saya lakukan supaya kamar kembali kinclong seperti sedia kala saat saya pertama kali masuk dulu.

Sebelum si Hausmeister datang seharusnya saya terlebih dahulu bebersih rumah sampe kinclong. Noda di dinding dihilangin, bopeng-bopeng cacat di dinding harusnya ditimpa aja sama cat, lantai kamar mandi disikat, dll jadi pas si Hausmeister datang semua terlihat sempurna tanpa cela. Sayangnya saya terlalu lugu dan buodoh, saya cuek aja ngga memoles rumah secara maksimal. Antara buodoh dan pede sih sebenernya, huahahaha. Sesungguhnya flat saya tergolong kece sempurna secarrraaaa saya dan flatmate tergolong rajin bebersih, tapiiiii apesnya, di dinding kamar ada “luka” bekas selotip yang bikin cat terkelupas dan belang, dan bodohnya belom saya timpa dengan cat untuk setidaknya sedikit menyamarkan. Ya Allah, itu “luka” gedenya paling cuma 4 sentimeter persegi, gitu loooh. Saya dengan manis memohon kepada Hausmeister supaya diperbolehkan untuk menambal saja itu “luka”, tapiiiiii teteup aja disuruh ngecat seluruh dinding kamar! Alesannya supaya dinding ngga belang sama noda si “luka”. GONDOKS!! Tambah KZL lagi karena pake diledekin sama Hausmeister and my dear flatmate bahwa sekarang lah saat yang tepat untuk gadis Indonesia yang manja ini belajar ngecat dinding -..-

  1. Merasa tertantang saya akhirnya memutuskan untuk mengecat sendiri dinding kamar. Sebenernya agak galau juga sih apakah saya harus mengecat sendiri atau merelakan saja uang deposit sewa sebesar 350 euro untuk pengecat profesional. Kalau mengecat sendiri udahlah cape, keluar uang lumayan banyak buat beli cat, peralatan, dll eh taunya hasil ngecatnya jelek maka teteeeuup uang deposit sewanya diambil juga. Ruginya dobel-dobel kaaan, pake sedih dan sakit hati jugaaa, huhuhuhu. Kalo bayar pengecat profesional, ya udah jelas ketahuan hasilnya bagus, cuma rugi keluar duit doang ngga pake sakit hati dan capek.

Tapiiiiiii kemudian dengan dukungan teman-teman tersayang akhirnya saya sampai di titik bahwa yang penting adalah saya bisa belajar ngecat!! Ngga peduli sama uang keluar untuk beli cat dan peralatan juga waktu dan tenaga yang terbuang untuk ngecat, bahkan ngga peduli juga sama duit ratusan euro deposit yang bakal disita kalo ngecat amatiran ini jelek hasilnya. Ikhlas, yang penting aku bisa ngecat! Begitulah kata si anak baik hati nan solehah. Prets.

  1. Untuk beli cat dan peralatannya saya liat-liat iklan dimana toko yang lagi ada Angebote, soalnya harga cat itu lumayan mahal bisa sampe 60 euro per ember. Untuk ukuran kamar kira-kira p x l x t = 5 x 4 x 2,5 meter, saya beli cat di ember paling besar, eh itupun cuma kepake separonya aja lhooo. Trus beli perlengkapan laennya: selotip lebar untuk menutup bagian frame/dinding/langit-langit yang ngga mau kotor kena cat; roller besar untuk mengecat dinding; roller kecil dan kuas untuk mengecat dan memoles bagian dinding yang kurang sempurna dijangkau roller besar; strainer untuk meniriskan excess cat yang menempel di roller sebelum mulai mengecat dinding; ember besar dan baskom kecil untuk wadah cat secukupnya; tangkai kayu besar untuk mengaduk cat; tongkat tambahan untuk roller besar supaya bisa menjangkau dinding yang tinggi; plastik lebar dan koran untuk menutup lantai supaya tidak kecipratan cat.

Persiapan sebeluum mengecat adalah menempelkan selotip di bagian tepi langit-langit, frame, dan tepi lantai supaya tidak kena sentuhan cat dari roller, sekalian juga menempelkan plastik atau koran untuk menutupi lantai supaya tidak kecipratan cat, lalu semua perabot juga dipindahkan ke tengah ruangan dulu supaya dinding terbuka dan siap dicat. Kayaknya persiapan ini deh yang makan waktu. Waktu ngecatnya lumayan cepet lhooo, kan tinggal gerakin roller naik turun aja😛 Saya sendiri ngga banyak ikutan ngecat, saya lebih banyak membantu teman-teman lain yang mengecat. Tampaknya saya terlalu grorgi untuk melakukan eksekusi.

Mulai persiapan sekitar jam 10 pagi eh jam makan siang udah beres ngecatnya. Sakti banget yaaaah Perkumpulan Perdempulan PPI Darmstadt Ceria ini!! :3 Sekitar jam 2 siang ngecek hasil cat tadi pagi kok tampak belang-belang gitu siiih. Udah dicoba diulangin ngecat lagi eh masih rada belang aja menurut saya. Agak sedikit galau sih walopun mencoba santai dan ikhlas aja. Yaahsudahlaaaaah…..

Ternyataaaaaa yang menurut saya dinding belang-belang itu eh menurut Hausmeister hasil cat dindingnya oke sekaleeeeee. Bahkan doi bilang ngga ragu untuk minta saya mengecat rumahnya suatu hari nanti. *idung kembang kempis* *eh rupanya si Hausmeister ganteng sekali tipe kesukaan tante :P* Huahahaha padahal mah yang ngecat bukan saya.

(Alumni Program Master, Technische Universität Darmstadt)

Sumber di sini

Advertisements