Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Oleh Ribut Tri Purwanti
Dimuat di JOY Indonesia (Magazine), Edisi Mei 2016, hlm. 128-132.

IMG-20160507-WA0017

PENJELAJAHAN PULAU FLORES DAN SUMBA MENGANTARKAN RIBUT TRI PURWANTI UNTUK MENYAKSIKAN DARI DEKAT LANSKAP SPEKTAJULER, DESA MEGALITIKUM, PANTAI CANTIK, JUGA KEKAYAAN SENI DAN BUDAYA.

Eksotika alam Nusa Tenggara Timur menggoda saya untuk jejakkan kaki ke sana. Supaya lebih puas menikmati berbagai surga tersembunyi di kawasan tersebut, jauh-jauh hari saya telah merencanakan ikut tur perjalanan darat Labuan Bajo ke Maumere. Pengalaman seru yang sulit dilupakan! Untuk sampai ke Flores, Anda bisa menggunakan penerbangan dari Denpasar ke Bandara Komodo, Labuan Bajo. Pilihan lainnya, Anda dapat naik bus atau kapal feri dari Bali. Memang memakan waktu lebih lama, namun lebih hemat ongkos.

LINTAS DARAT Waktu seakan berhenti sesaat dan membiarkan saya menikmati keindahan mahakarya Tuhan di tengah keheningan suasana Labuan Bajo. Kota pelabuhan ini pun kini makin sibuk seiring dengan digalakkannya promosi wisata ke kawasan timur Indonesia, seperti acara Sail Komodo yang diadakan rutin sekali setahun. Setelah rehat sejenak di salah satu kafe di area jalan Soekarno Hatta, pemandu tur menginstruksikan untuk melanjutkan perjalanan yang memakan waktu selama tiga hari dua malam. Penjelajahan darat ini ditempuh setelah sebelumnya kami berlayar selama dua malam melintasi Pulau Komodo dan Rinca.

DESTINASI KONGKO
Jika bosan dengan pantai atau gunung, beberapa kafe dan kelab di Labuhan Bajo bisa jadi destinasi asyik. Silakan menuju Paradise Bar, di Jalan Binongko. Kawasan lain yang ramai dengan destinasi kuliner dan bar adalah Jalan Soekarno Hatta. Adan bisa mampir ke restoran Tree Top. Selain itu, ada juga Made in Italy, tempat bersantap dengan konsep restoran terapung.

UNGKAP NOSTALGIA Mobil sewaan melaju cukup kencang melintasi jalanan Flores yang berkelok-kelok. Dalam perjalanan yang memakan waktu selama tiga hari dua malam itu, saya dan rekan rombongan lainnya juga banyak mendapat informasi menarik seputar kehidupan masyarakat lokal dari pemandu. Di tengah perjalanan melintasi Ruteng, Manggarai, kami berhenti sejenak melihat lingko, sawah berbentuk jaring laba-laba yang berada di Desa Cancar. Konon, jenis sawah ini merupakan satu-satunya di dunia. Menariknya, tanah yang dijadikan lingko merupakan milik bersama dan pengunaannya berdasarkan sistem adat setempat. Setelah mengisi perut di rumah makan sederhana di sekitar Ruteng, saya dan rombongan beranjak menuju Desa Bena di Bajawa. Kampung yang sudah ada sejak 1.200 tahun silam itu dihuni oleh masyarakat yang terdiri dari sembilan klan dan menempati 45 rumah di kampung tersebut. Berlokasi di kaki Gunung Inerie, Kabupaten Ngada, perkampungan Megalithikum ini memiliki penduduk yang masih memegang teguh kepercayaan memuja gunung yang dianggap sebagai tempat para dewa.

SELAMI HISTORI Tempat Pemberhentian berikutnya adalah rumah pengasingan mantan Presiden Indonesia, Soekarno, yang berada di Jalan Perwira, Ende. Ternyata, Ende tidak hanya menyisakan rumah pengasingan Bung Karno, karena sejumlah situs sejarah lain yang berkaitan dengan beliau, di antaranya Taman Perenungan, pelabuhan tempat pendaratan pertama Soekarno dan eks toko De Leeuw (sekarang direnovasi menjadi Hotel Cendana), tempat Soekarno menitipkan surat untuk dikirim ke para sahabatnya.

MOMEN MENTARI Saya tak sempat berlama-lama di Ende, karena rombongan bergegas melanjutkan perjalanan ke Desa Moni untuk mengejar momen matahari terbit di Danau Kelimutu. Danau ini juga dikenal dengan sebutan Danau Tiga Warna. Perubahan warnanya diperoleh dari reaksi kimia mineral dan aktivitas gas yang terkandung dalam perut danau ini. Untuk bisa mendapatkan pemandangan matahari terbit, Anda bisa bermalam di penginapan dekat Tanam Nasional Kelimutu. Di antaranya adalah Kelimutu Eco Lodge (http://www.kelimutoecolodge.com) dan Bintang Lodge (http://www.bintang-lodge.com), dengan tarif sekitar Rp400 ribu per malam. Perjalanan mengejar matahari terbit ini mewajibkan Anda untuk bangun lebih awal, sekitar pukul setengah lima pagi. Anda pun harus berjalan sekira 1,5 kilometer dari area parkir dan menaiki 127 anak tangga untuk sampai di puncak Kelimutu. Perjuangan keras untuk mencapai puncak pun terbayar karena panorama yang terlihat dari atas memang benar-benar menakjubkan. Bagi Anda yang masih ingin meneruskan penjelajahan, kawasan Larantuka bisa jadi opsi. Singgahlah ke Taman Doa Mater Dolorosa juga Pulau Meko yang tawarkan panorama Pantai Pasir Timbul.

TERPIKAT TENUN
Jika ingin lebih mengenal kerajinan tenun ikat, datanglah ke Desa Watublapi, Maumere. Selain bisa belajar menenun dari perajin lokal, Anda juga dapat menikmati atraksi tarian Tuaiteleu.

POTRET SUMBA Meski untuk mencapai Bandara Tambolaka di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur hanya sekitar 50 menit dari Denpasar, Bali, Anda akan menemukan kesan berbeda saat datang ke Sumba dengan feri dari Pelabuhan Aimere, Ngada. Perjalanan selama tujuh jam mengantarkan saya ke Pelabuhan Waingapu, Sumba Timur. Jika dibanding dengan Flores dan Bali, pulau ini terlihat sepi dari wisatawan lokal dan asing. Bisa jadi karena kampanye wisata pulau ini belum gencar dilakukan. Namun, kehadiran film Pendekar Tongkat Emas di penghujung 2014 jadi angin segar yang ikut mendongkrak popularitas Pulau Sumba. Hasilnya, sekarang sudah banyak tur yang menawarkan paket jelajah Sumba. Bila berkunjung pada Februari atau Maret, Anda bisa menyaksikan Festival Pasola, festival perang tahunan yang diadakan masyarakat Sumba sebelum masa tanam. Pagi hari sebelum Pasola diadakan, warga desa akan berbondong-bondong ke laut untuk menangkap cacing laut, yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat lokal, Bau Nyale.

MAKNET ASIA
Anda bisa menikmati keindahan Pantai Nihiwatu, Sumba, yang juga disebut sebagai salah satu pantai terbaik di Asia. Pantai yang merupakan bagian resor Nihiwatu ini terdiri dari vila-vila, restoran, dan kolam renang yang menghadap ke Samudra Hindia. Eksotika alam di sekitarnya menjadikan resor ini banyak diincar wisatawan internasional, termasuk penyanyi Pink.

WARISAN SEJARAH Sebelum menikmati landskap Sumba yang indah, sebaiknya Anda mengunjungi Rumah Budaya Sumba, di Kabupaten Sumba Barat Daya. Selain menyimpan peninggalan tradisi Sumba seperti totem, menhir, perhiasan, dan peralatan masak, Anda juga dapat melihat dokumentasi kehidupan masyarakat Sumba karya Pastor Robert Ramone, pendiri Rumah Budaya ini. Meskipun di sini juga tersedia akomodasi, pesanlah dari jauh-jauh hari karena jumlah kamarnya sangat terbatas. Tak bila Anda berkunjung ke Sumba tanpa mampir ke kampung adat Ratenggaro, yang terletak di pinggir Pantai Ratenggaro. Di sini Anda bisa mengobrol tentang tradisi dan budaya Sumba sembari belajar nyirih dari kepala adat. Sekira 30 menit perjalanan dengan menggunakan mobil dari kampung tersebut, Anda dapat singgah di Danau Weekuri yang terlihat biru kehijauan. Tak jauh dari danau ini ada Pantai Mandorak, tempat menikmati panorama matahari tenggelam yang menakjubkan. Keunikan lain dari Sumba adalah kulinernya. Ada mesti mencicipi nasi goreng khas yang dibungkus telur dadar. Selain itu ada juga ro’o pakoda yang diolah dari daun singkong. Bagi yang ingin sajian laut dengan sambal khas Sumba, datang saja ke area dermaga di Waingapu. Anda tidak akan disodori daftar menu, melainkan langsung memilih ikan segar hasil tangkapan nelayan dan memilih jenis olahan masaknya sesuai selera. Pasti ketagihan!

TRIK SAAT TRIP
PENERBANGAN Untuk mencapai Flores Anda bisa memilih rute penerbangan dengan transit dari Denpasar, kemudian dilanjutkan dengan penerbangan ke Bandara Komodo, Labuan Bajo. Beberapa maskapai yang membuka rute tersebut adalah Garuda Indonesia, Lion Air, Wings dan Kal Star Aviation dengan kisaran tarif Rp700 ribu sampai Rp1,4 juta sekali jalan. Selain dari Bali, Anda bisa sampai ke Labuan Bajo melalui Kupang, Nusa Tenggara Timur. SEWA MOBIL Tranportasi umum di Flores dan Sumba masih sangat terbatas. Demi kenyamanan sebaiknya Anda menyewa mobil bersama sopirnya. Harga sewa sehari rata-rata Rp500 ribu per mobil. Silakan cek di http://www.expedia.co.id dan http://www.travelocity.com. AKOMODASI Jika ingin merasakan suasana pusat kota dan dekat dengan sejumlah kafe, restoran, dan tempat hiburan malam, Green Hill Boutique Hotel (http://www.greenboutiquehotel.com) bisa jadi pilihan. Bagi yang suka suasana lebih tenang, Selini on The Hill Villa yang berjarak 10 menit dari Pantai Pede, siap hadirkan kesempurnaan liburan menyenangkan.

Advertisements