Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

Oleh Ahmad Yousuf Kurniawan

Giessen an der Lahn – Tulisan ini bermula dari diskusi online dengan Ir. Achmad Rafieq, M.Si, seorang anthropolog dari BPTP Kalimantan Selatan, tentang perubahan mata pencaharian orang Dayak Meratus (Dayak Bukit) di Kalimantan Selatan. Tulisan beliau bisa dilihat di sini.

Beliau mengemukakan fakta bahwa kehidupan masyarakat Meratus yang semakin konsumtif mendorong terjadinya perubahan dalam sistem perladangan yang mereka laksanakan. Penanaman tanaman perkebunan di lahan perladangan akan mengurangi lahan untuk perladangan sehingga akan mempersingkat waktu bera dan menurunnya produktivitas lahan.

Ladang-ladang orang Meratus dari kejauhan (Foto: Aan Yuliono, 2011)

Ladang-ladang orang Meratus dari kejauhan (Foto: Aan Yuliono, 2011)

Hasil penelitian beliau ini memperkuat dugaan atas temuan mahasiswa kami di tahun 2011, yang meneliti sistem perladangan gilir balik di Desa Haratai-Loksado di kawasan Meratus, Kalimantan Selatan. Hasil temuannya bisa dilihat di sini.

Orang Meratus (atau juga dikenal dengan Orang Bukit/Buket) mendiami perbukitan di daerah Pegunungan Meratus. Menurut Tjilik Riwut, komunitas ini bisa digolongkan ke dalam Sub-Cluster Dayak Ot Danum. Mayoritas mata pencaharian mereka adalah bertani ladang, berkebun, dan mengumpulkan produk hutan non-kayu. Berbeda dengan mayoritas Suku Dayak yang beragama Kaharingan, mereka menyebut kepercayaannya dengan agama Balian, suatu kepercayaan yang menyebah alam dan leluhur. Aktivitas sehari-hari mereka harus selalu selaras dengan alam yang dimanifestasikan dengan hukum adat. Pelanggaran atas hukum adat dan tabu akan berakibat kutukan bagi pelanggar dan komunitas mereka.

Secara umum, sistem perladangan orang Meratus harus selaras dengan alam dan kaya dengan ritual. Mereka menyebutnya dengan sistem gilir balik. Artinya mereka akan membuka lahan pertama dalam satu tahun untuk kemudian berpindah ke lahan lainnya dan seterusnya sehingga mereka akan kembali ke lahan pertama tadi setelah 7-8 tahun. Pem-bera-an selama itu bertujuan untuk mengembalikan kesuburan tanah.

Mereka menanam berbagai macam varietas padi lokal (padi gunung), pisang, palawija dan bunga. Aktivitas usahatani padi gunung merupakan aktivitas wajib dan sakral. Benih diperoleh dari panen sebelumnya. Dalam satu lahan, mereka bisa menanam 10 varietas padi yang berbeda. Hasil panen hanya untuk konsumsi sendiri dan sukunya. Menjual hasil panen padi dianggap tabu.Setiap keluarga memiliki lumbung padi sendiri yang dapat berisi padi hasil dari 5 – 10 musim musim sebelumnya. Jadi, jika mereka mengalami gagal panen sampai beberapa musim, mereka masih memiliki cadangan stok padi yang cukup untuk bertahan.

Selain itu, mereka juga menanam tanaman perkebunan seperti karet hutan, kemiri dan kayu manis. Dari hasil perkebunan inilah mereka memperoleh uang tunai.

Ladang gilir balik dengan tanaman padi (tanaman utama), pisang, tebu dan tanaman lain termasuk tanaman karet yang masih muda (Foto: Aan Yuliono, 2011)

Ladang gilir balik dengan tanaman padi (tanaman utama), pisang, tebu dan tanaman lain termasuk tanaman karet yang masih muda (Foto: Aan Yuliono, 2011)

Mereka tidak menggunakan bahan-bahan kimia dan lebih menggunakan bahan-bahan alami, termasuk pestisida nabati. Sistem perladangan mereka juga sarat dengan ritual dan sama sekali tidak boleh bertentangan dengan hukum adat yang berlandaskan alam. Ritual ini dimulai dari pemilihan lahan, pembersihan lahan, tanam, hingga panen dan penyimpanan di lumbung.

Aktivitas panen padi (Foto: Aan Yuliono, 2011)

Aktivitas panen padi (Foto: Aan Yuliono, 2011)

Namun temuan mahasiswa kami di lapangan sungguh mengejutkan. Sebagian kecil dari mereka mulai menggunakan pupuk kimia. Dan sebagian besar dari mereka mulai sering menggunakan pestisida kimia. Sepertinya mereka mulai mengeksploitasi lahan mereka agar memperoleh hasil panen yang lebih tinggi dengan masa pem-bera-an yang lebih pendek

Dan sepertinya, orang Meratus cenderung lebih tertarik ke perkebunan yang lebih menghasilkan uang tunai. Mereka mulai mengkonversi sebagian ladangnya menjadi perkebunan. Akibatnya lahan untuk ladang menjadi sedikit dan pemberaannya pun lebih pendek menjadi berkisar 4-5 tahun. Untuk memperoleh jumlah panen yang lebih tinggi dengan durasi bera yang lebih pendek, akhirnya mereka pun ‘tergoda’ untuk menggunakan pupuk kimia dan pestisida. Jadi, meski beralih ke perkebunan, mereka beranggapan bahwa stok lumbung mereka masih mencukupi itu kebutuhan sehari-hari keluarganya dan komunitasnya. Sayang sekali kami tidak bisa mengkonfirmasi hal ini karena kami tidak menghitung konsumsi beras mereka. Dugaan awal ini ternyata diperkuat oleh tulisan Pak Rafieq di atas.

Jenis kebutuhan mereka juga mulai beragam. Kalau dulu cukup sandang, pangan dan papan yang semuanya dapat dipenuhi dari alam (non-tunai), sekarang mulai ada kebutuhan sekunder dan tersier yang pemenuhannya harus dengan uang tunai. Akibatnya mereka mulai ‘mengeksploitasi’ lahannya.

Jika konversi ladang menjadi perkebunan tidak terkendali, maka seperti yang dikemukan Pak Rafieq, ketiadaan lahan untuk perladangan tidak hanya mengancam ketersediaan pangan tetapi juga kebudayaan orang Meratus dan eksistensi orang Meratus itu sendiri.

Sumber tulisan di sini.

Advertisements