Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Trismono Candra Krisna

Artikel ini berangkat dari keprihatinan saya tentang maraknya praktik agen studi ke Jerman yang kurang bertanggung jawab. Persoalan ini semakin bertambah dengan banyaknya calon mahasiswa Indonesia yang ‘terdampar’ di Jerman dengan kebingungan yang sangat parah serta kemampuan bahasa dan akademis yang kurang. Untuk itu, maka saya menuliskan hasil refleksi berdasarkan observasi realitas di lapangan ini. Semoga tulisan ini dapat memberikan tambahan informasi, pengetahuan serta wawasan kepada semua calon mahasiswa sarjana (S1/bachelor) yang berkeinginan untuk kuliah di Jerman. Termasuk juga bagi para orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya ke Jerman.

Jerman!! Yaaaa.. Jerman adalah negara yang akhir-akhir ini sedang populer dan hangat untuk menjadi tujuan studi bagi para pelajar dari Indonesia, terutama bagi mereka yang akan mengambil pendidikan sarjana di mana jumlahnya setiap tahun meningkat secara drastis (sumber resmi dari artikel DAAD Jakarta). Ada beberapa alasan rasional mengenai hal ini, antara lain, yaitu berkaitan dengan kualitas pendidikan. Sebagaimana diketahui kualitas pendidikan di Jerman sangat bagus dan merata (Jerman adalah negara dengan jumlah publikasi ilmiah dan paten terbanyak nomor dua di dunia setelah Amerika Serikat).

Selain itu, ditambah lagi dengan dihapuskannya uang kuliah (tuition fee) yang diterapkan pemerintah Jerman mulai tahun 2014 di seluruh sekolah dan universitas negeri. Jadi ya, bagi siapa yang kuliah di sini hanya perlu membayar semester fee (semesterbeitrag) yang mencakup semesterticket untuk keperluan transportasi kita selama enam bulan. Sementara itu, biaya hidup di Jerman besarnya relatif tergantung di wilayah jerman mana kita tinggal serta gaya hidup kita. Daya tarik utama itu masih ditambah lagi dengan adanya tren orang tua kelas menengah ke atas (berduit) yang menginginkan agar anaknya kuliah di Jerman, serta kecenderungan dari anak muda di Indonesia yang suka ikut-ikutan teman dan mudah terpengaruh oleh informasi manis (hanya yang manis-manis saja) tentang kuliah di Jerman.

Dari beberapa uraian di ataslah segenap problematika yang ada bermula. Hal ini dikarenakan setiap calon mahasiswa yang ingin kuliah di Jerman pasti membutuhkan informasi bagaimana cara kuliah, persiapan, pengurusan administrasi, akomodasi, hidup di Jerman dan lainnya. Dari sini akhirnya muncul yang dinamakan agen studi. Pada awalnya, sekitar beberapa tahun yang lalu jumlahnya masih sedikit namun sekarang sudah sangat menjamur dan jumlahnya sangat banyak sekali. Dari mulai yang mahal sampai yang murah (puluhan hingga ratusan juta). Dari yang bagus sampai yang kurang bagus.

Dari hasil pengamatan saya, hal ini membuat agen-agen tersebut berusaha mendapatkan calon mahasiswa (murid) sebanyak-banyaknya dan mungkin tak lagi memperdulikan kemampuan akademik dan kesiapan mental para calon mahasiswa tersebut. Mungkin hal terpenting bagi mereka adalah bagaimana mendapatkan uang dalam jumlah yang banyak. Berdasarkan interview kepada para kenalan saya yakni para pengguna jasa agen studi, tarif termurah saat ini sekitar 60 juta dan yang paling mahal bisa ratusan juta seperti saya sebutkan di atas. Dan dari uang yang dibayarkan tersebut, biasanya siswa mendapat fasilitas konsultasi (bimbingan), les bahasa Jerman (Deutsch) yang biasanya sampai B1 (kombinasi di Indonesia dan Jerman), pengurusan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk sekolah di Jerman (termasuk pengurusan visa, penerjemahan maupun legalisir), tiket pesawat berangkat, pembimbing (betreuer) selama awal masa di Jerman, membuka akun bank, mengurus tempat tinggal serta biaya hidup selama satu sampai tiga (1-3) bulan pertama di Jerman, dan ditambah pendaftaran Studienkoklleg (minimum 10 aplikasi dan termasuk pembukaan akun uni-assist).

Dari fasilitas yang ditawarkan agen studi kepada para murid memang tampak sangat oke sekali, namun yang menjadi masalah disini adalah kualitasnya. Biasanya untuk agen-agen studi yang kurang bagus akan sangat terlihat adalah mengenai masalah kursus bahasa, apalagi agen yang hanya memberikan kursus bahasa privat, menggunakan bimbingan belajar (bimbel) sendiri, atau bekerjasama dengan bimbel orang lain di mana yang kurikulum, metode dan kualitasnya berada di bawah standar. Seakan-akan agen studi yang seperti ini enggan untuk memberikan kursus bahasa yang berkualitas atau katakanlah mau ‘melempar’ muridnya ke lembaga kursus bahasa yang berkompeten atau sudah terpercaya seperti Goethe Institut (GI).

Saya tidak bermaksud promosi dan saya tidak berafiliasi apapun dengan GI, ini hanya berdasarkan pengalaman saya dan teman-teman yang belajar serius selama les di GI. Dalam opini saya, mungkin motif utamanya adalah penghematan biaya yang dikeluarkan. Bisa ditebak, banyak sekali murid yang keteteran dan gagal ketika harus ujian setifikat bahasa di Goethe Institut sebagai persyaratan mutlak (note: serifikat bahasa yang diakui dari lembaga kursus di Indonesia hanya dari Goethe Institut). Bahkan jalan pintas pun banyak ditempuh, ada kasus di mana bimbel privat mereka memberikan serifikat bahasa Jerman dengan nilai cukup wah tapi secara kenyataan tingkat kebisaan dan pemahaman akan bahasa Jermannya sangat buruk. Celakanya sertifikat dari bimbel pribadi itu memang bisa untuk pengurusan visa, saya juga bingung entah mengapa banyak yang lulus visa dengan menggunakan sertifikat bahasa seperti ini?

Dari pengamatan saya, dengan adanya realitas ini maka bisa ditebak, ketika mereka sampai di Jerman dapat dipastikan akan sangat kesulitan dalam berkomunikasi dengan native speaker, bahkan yang notabene untuk komunikasi sehari-hari pun sangat sulit. Mayoritas dari mereka ketika tes penempatan untuk mengambil kursus lanjutan di Jerman hasilnya harus mengulang dari level yang lebih rendah. Hal ini tentu saja sangat menyedihkan dan memalukan jika melihat bagaimana bimbel pribadi yang bekerjasama dengan agen bisa mengeluarkan sertifikat kemampuan bahasa yang tidak berstandar baku yang baik. Siswa tentu saja akan mengalami kerugian waktu dan biaya di sini. Seperti pengalaman dari salah seorang narasumber yang saya temui, dia tidak lulus dua (2) kali tes A-1 di GI untuk mendapatkan Goethe sertifikat A-1, namun anehnya dia dapat serifikat B-1 (lulus) dari agennya dan nilainya cukup bagus. Nah bisa dibayangkan bagaimana bertolak belakangnya kualitas sesungguhnya dan hasil yang dia dapat, akhirnya ya jelas saja ketika di sini dia sangat susah untuk berkomunikasi dalam bahasa tulisan sekali pun, apalagi untuk mendengar dan berbicara.

Nah kemudian muncul pertanyaan dari saya, apakah tidak ada regulasi terutama dari pemerintah Indonesia dan Jerman (mungkin diwakili oleh kedutaan besar/kedubes Jerman di Indonesia) yang mengatur tentang agen-agen studi dan penyedia kursus bahasa ini? Akhirnya saya bertanya kepada beberapa sumber dan saya mendapat informasi bahwa fungsi pengawasan dan seleksi masih sangat lemah dalam hal ini, termasuk ketika proses pengajuan visa studi kepada kedubes Jerman. Seakan mereka tidak melakukan cek dan seleksi pada sertifikat bahasa yang cukup aneh ini, mungkin mereka hanya melihat “ohhh ini ada sertifikatnya”, tanpa memvalidasi dengan mengecek kredibilitas agen, kursus bahasa, ataupun kemampuan bahasa si pendaftar visa.

Peran pemerintah Indonesia sampai saat ini saya rasa masih minim dalam menyikapi hal-hal seperti ini, kurang lebih sama seperti yang baru saja saya jelaskan. Namun yang harus dicatat adalah usaha pemerintah Indonesia yang sedang memperjuangkan agar lulusan SMA dari Indonesia dapat langsung kuliah S1 di Jerman tanpa Studienkolleg (sekolah persiapan sebelum masuk Universitas) akan berat jika kita melihat fakta yang terjadi di lapangan seperti ini.

Bagaimana cara menanggulangi masalah ini?
1. Sosialisasi
Sosialisasi!! Ya benar!! Sosialisasi adalah hal utama yang harus gencar dilaksanakan di Indonesia terutama di sekolah-sekolah terutama SMA oleh para guru maupun aktivis yang perduli dengan masalah ini dibantu oleh pemerintah melalui dinas terkait. Mengingat hal ini menurut saya sudah semakin parah kondisinya, apalagi melihat gerak cepat agen-agen studi yang bergerilya mencari murid baru dengan masuk dan bahkan sosialisasi di sekolah-sekolah SMA. Saya tekankan ini bukan sebagai usaha untuk memojokkan atau mematikan semua agen studi, melainkan sebagai suatu usaha balancing dan proteksi terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya agen tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan keinginan, antusiasme dan mungkin uang dari murid yang ingin sekolah di Jerman. Tidak semua agen studi itu buruk, menurut saya jika memang itu agen studi bagus, sekalipun lebih mahal tidaklah mengapa asal kualitas dan jalan yang diberikan jelas dan berujung pada kesuksesan murid. Nah sebaliknya, jika agen studi yang tidak baik ini berhasil memanfaatkan kondisi tersebut jelas sekali ujungnya bagaimana seperti yang sudah saya utarakan.

2. Peran orang tua
Nah ini juga penting!! Saya tidak bermaksud ingin menggurui para orang tua, saya hanya ingin berbagi pengalaman. Janganlah keinginan orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di Jerman sampai membuat buta. Harus dilihat dahulu bagaimana kemampuan si anak apakah kira-kira bisa survive hidup dan kuliah di Jerman. Apakah si anak juga punya keinginan dan tekad yang kuat untuk kuliah di Jerman. Semua harus klop. Jangan sampai hanya karena keinginan orang tua kemudian mengirim anaknya ke Jerman melalui agen studi lalu setelah si anak sampai disini jadi stress, terutama bagi anak yang masih manja, kemampuan akademis dan mentalnya kurang.

3. Peran siswa/murid
Nah murid ini juga penting, siswa mereka harus bisa mengukur kesiapan dan kemampuannya, berwawasan luas dan jangan malas. Ingat bahwa agen-agen studi yang tidak bertanggung jawab mengincar pada sisi tersebut jika mereka ingin kuliah di Jerman. Kemandirian adalah salah satu hal penting yang harus dimiliki untuk kuliah di Jerman, lihat saja karakter orang-orang Jerman yang sangat mandiri dan disiplin. Mengapa agen studi ini dibutuhkan? Ya tentu alasan utamanya karena ketidakmandirian siswa. Sebenarnya bagi siswa yang benar-benar tangguh, untuk kuliah di sini itu tidak butuh agen studi kok.

Ada sepuluhan orang yang saya temui berhasil menembus studkol dan kuliah S1 di Jerman tanpa agen studi, dan justru mereka-mereka ini saya lihat lebih berhasil dan bagus lho daripada anak-anak agen studi terutama secara mental, kepribadian, semangat, daya juang, dan akademis. Mereka juga pada baru lulus SMA dan mereka bisa, jadi tidak ada alasan dong bagi siswa lain yang merasa tidak bisa? Kalau kalian merasa tidak bisa, berarti kembali lagi kalian mungkin tidak siap untuk hidup dan kuliah di Jerman. Saya mengutip tulisan dari teman saya (Daranindra, 2013) tentang bagaimana langkah untuk melanjutkan studi di Jerman tanpa agen, yuk silahkan dibaca, dipahami, dan dipecahkan sendiri masalah-masalahnya di link tersebut.

Perbanyaklah mencari informasi secara mandiri, sekarang ini internet sudah menyediakan semua yang kita butuhkan. Dengan browsing, korespondensi dan sebagainya kalian dapat memperoleh informasi yang butuhkan. Dan jangan lupa, di Indonesia juga ada perwakilan DAAD (Deutsche Akademischer Austauschdienst/German Academic Exchange Service) di mana kita dapat juga bertanya, korespondensi, dan memperoleh informasi dari mereka baik melalui website ataupun kontak secara langsung (www.daadjkt.org).

Pengalaman seorang teman menembus beberapa studkol tanpa agen studi
Ini pengalaman dari seorang teman saya. Saya kenal dia sejak les di GI Jakarta tahun 2014 lalu. Dia berangkat ke Jerman benar-benar tanpa agen studi. Bagaimana caranya dia agar dapat informasi? Ya dari internet, buku, bertanya ke orang-orang yang mengerti bahkan dia sering datang ke DAAD Jakarta untuk berkonsultasi (Jadwalnya tiap hari kamis). Nah ada untungnya juga les di GI Jakarta menurutnya, karena pengajarnya semua alumni Jerman dan sangat berkompeten, selain pasti pintar, juga punya pengalaman bagaimana cara untuk bisa sekolah di sini. Dia manfaatkan betul hal ini dengan bertanya ke guru (lehrer/lehrerin) yang ada di GI.

Teman saya ini memang luar biasa selain pintar, kemampuan bahasanya adalah di atas rata-rata untuk seusianya. Dia menamatkan B-1 di GI Jakarta dengan nilai fantastis. Setelah dia urus semua persyaratan dan dokumennya sana-sini, selesai semua, visa sudah dapat, akhirnya berangkatlah dia ke Jerman. Kota pertamanya adalah Hamburg, karena selain dia ingin les di GI Hamburg, ada tante asuhnya di sana jadi dia bisa tinggal dan makan di tempat tantenya (bisa berhemat). Kali ini lebih ‘gila’ lagi, dia lesnya sampai C-1 dan lulus ujian sertifikat dari GI Hamburg padahal untuk daftar studkol hanya cukup B-2. Ternyata dia merasa kurang pada nilai ujian nasionalnya sehingga dia harus ‘menambalnya’ di bahasa (penilaian studkol dan uni memang menggabungkan dari beberapa aspek seperti raport, UN, bahasa, dan nilai test).

Setelah lulus C-1 kemudian teman saya ini daftar ke delapan (8) studkol, yang pertama dia dapat panggilan tes di Kiel dan dinyatakan lulus, kemudian panggilan tes di TU Darmstadt dan lulus lagi, kemudian dari Hamburg juga lulus. Panggilan test setelahnya dia tidak ambil lagi karena sudah memutuskan akan mengambil di Hamburg. Luar biasa sekali bukan? Yang lain bingung tidak diterima, eh ini teman saya diterimanya kok banyak sekali dan semuanya negeri lho!. Saya tidak kaget dengan pencapaiannya, karena saya tahu bagaimana usahanya. Belajar giat, tanya sana-sini pada orang yang mengerti, cari informasi mandiri, latihan soal semua dilakukannya secara mandiri dan dengan semangat tak kenal lelah. Saya yakin sekali teman saya ini akan sukses dimanapun karirnya nantinya.

Contoh-contoh kasus buruk yang terjadi
Oke setelah bercerita tentang hal-hal di atas, mari saya tunjukkan kasus-kasus ekstrim yang terjadi jika calon mahasiswa berangkat ke sini tanpa adanya kesiapan yang matang.

1. Tidak mendapatkan studkol, habis uang banyak dan waktu.
Banyak sekali anak yang saya jumpai seolah-olah tujuan utamanya adalah berangkat ke Jerman, sudah itu saja titik!! Mereka tidak punya rencana bagaimana setelah tiba di sini, bagaimana agar diterima studkol, lulus studkol, improve bahasa, diterima universitas, lulus universitas dan seterusnya. Sekali lagi ini diperparah dengan hasil dan kemampuannya sendiri seperti karena nilai raport dan ujian nasionalnya jelek, bahasanya kurang, serta kemampuan eksaknya menyedihkan. Akhirnya setelah tiba disini akhirnya akan ‘stuck’ tidak tahu harus bagaimana lagi, tidak ada Studkol yang menerima (tidak mendapat undangan tes atau dapat undangan tes tapi tidak lulus), dan akhirnya harus pulang ke Indonesia selamanya. Memang ada alternatif lain dengan masuk Studkol Privat, tapi secara pribadi saya tidak merekomendasikan selain karena biayanya mahal (kalau negeri kan gratis) dan secara logika, siswa akan kesusahan lagi nantinya untuk lulus. Sudah berapa biaya yang terbuang (pasti ratusan juta), waktu yang terbuang. Lebih baik kuliah di Indonesia bukan??

2. Bingung
Nah biasanya lagi, agen studi merasa sudah selesai menjalankan kewajibannya setelah murid tiba di Jerman setelah bulan pertama (ada kasus ekstrim yang hanya beberapa hari saja). Bayangkan saja jika lewat 1 bulan tapi mereka tidak tahu lagi setelah ini mau ngapain, bisa bingung luar biasa ujung-ujungnya. Secara pribadi saya sering menyarankan untuk pulang saja kepada anak-anak seperti ini, karena saya merasa kasihan daripada habis uang banyak dan waktu, apalagi mereka kebanyakan masih muda baru lulus SMA. Jika tidak jelas di sini, mending kuliah saja di Indonesia, menurut saya lebih mulia uangnya dipakai daftar di universitas negeri di Indonesia meskipun masuknya lewat jalur mandiri sekalipun.

3. Stress
Nah ini fenomena lain yang terjadi, banyak anak yang akhirnya mengalami stress di sini. Karena stuck mau ngapain sudah tidak tahu dan tidak bisa dan akhirnya stress. Istilahnya mau maju tidak bisa, mau pulang kok malu rasanya. Begitulah kira-kira kondisi yang banyak dialami mereka-mereka yang terperangkap disini. Dan mereka akan rawan terkena pengaruh berbagai hal negatif. Harus hati-hati!!

4. Terkena deportasi
Nah ini terjadi kalau mereka di sini tidak ada tujuan, ya ujung-ujungnya terkena deportasi. Bisa memalukan nama pribadi, keluarga, negara dan bisa kena cekal. Jadi untuk hidup di Jerman harus ada kegiatan yang dilakukan, jika tidak ya akan dideportasi jika visa telah habis dan tidak bisa diperpanjang.

Contoh kasus agen studi yang murah tapi bagus
Kalau di atas banyak cerita-cerita negatif tentang agen studi dan muridnya, ada juga cerita positifnya seperti pengalaman salah seorang teman saya yang lain. Kebetulan secara nominal, biaya total yang dia keluarkan untuk agen studi ini tidak mahal (untuk ukuran biaya agen), sekitar 60 juta rupiah dan ini termurah dari yang saya tahu. Dari situ dia mendapat kursus bahasa di bimbel swasta berlisensi, kemudian ujian sertifikatnya di Goethe Indonesia untuk level B-1 dan dia lulus, di Jerman dia lanjut B-2 dan lulus lagi. Menurutnya ini karena metode dan basic yang ditanamkan sejak di Indonesia sudah bagus selain seleksi murid juga bagus. Selain itu dia dapat fasilitas konseling, pelatihan, tiket pesawat berangkat, betreueur (pembimbing selama di Jerman), tempat tinggal dan biaya hidup dibayarin selama 1 bulan pertama di Jerman (full), didaftarkan studkol negeri sampai dapat, dan benar-benar baru dilepas ketika teman saya ini sudah menyatakan dirinya siap untuk mandiri. Nah menurut teman saya ini, agennya cukup ketat dalam melakukan seleksi. Anak-anak yang sekiranya tidak qualified tidak jadi diberangkatkan (uang kembali) atau juga ada yang ketika daftar untuk masuk agen tersebut sudah ditolak. Iya saya setuju siapa yang tidak qualified ditolak saja missal dilihat dari nilai UN, raport, dan harus ditest untuk melihat kemampuan aktuelnya. Daripada menerima sembarangan yang penting mau bayar tapi ujung-ujungnya bermasalah, kan kasihan siswa dan orang tua yang membiayai. Setelah lulus B-2 di Jerman, kemudian teman saya didaftarkan studkol oleh agennya dan dia dapat undangan test di beberapa studkol negeri, lulus dan akhirnya dia memilih untuk mengambil di Studkol Uni Leipzig. Sekarang sudah semester 2 dan nilainya cukup bagus. Secara pribadi dengan melihat kemampuan dan karakternya saya yakin dia bisa survive sampai nantinya masuk uni dan lulus dari uni. Nah agen-agen seperti ini nih yang patut diacungin jempol, bagus tapi nggak mahal. Bener nggak? Ada juga pengalaman serupa tapi ini lebih mahal agennya sampe hampir 200 juta biayanya, les bahasanya di lembaga mereka sendiri dan mereka bekerjasama dengan beberapa studkol negeri untuk mengadakan test penerimaan di Indonesia. Jadi enak bagi yang lulus test, akan langsung diterimadi studkol tersebut. Tapi harus diingat ya bahwa dimanapun agennya, lesnya, murid harus belajar dengan giat dan sungguh-sungguh. Sekalipun sudah les di GI dan ikut agen studi yang bagus tapi kalau tidak belajar apalagi suka bolos ya sama saja!!

Sekian yang dapat saya sampaikan, kepada siapa saja yang membaca artikel ini saya mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan. Saya tidak bermaksud memojokkan siapapun atau pihak manapun, saya hanya merasa tergerak untuk menanggulangi fenomena ini dan memproteksi agar hal-hal buruk yang selama ini ada agar tidak (terulang) terjadi lagi. Sekali lagi ini adalah berdasarkan sudut pandang, opini, hasil diskusi dengan pihak-pihak terkait, sesepuh dan para stakeholder pendidikan di Jerman. Saya berharap agar siapapun yang berniat untuk sekolah S1 di Jerman agar benar-benar mempersiapkan diri baik dari sisi akademik maupun mental karena hidup dan sekolah di sini tidak semudah yang dibayangkan, baik dari segi kultur budaya, cuaca, bahasa dan terutama kurikulum pendidikan. Semoga kita semua berhasil dalam masa studi kita di Jerman, terima kasih!.

Kandidat Doktor Universitas Leipzig
Ketua PPI Leipzig 2014-2015
Wakil Sekretaris Jenderal PERMIAN Jerman 2015-2016

Advertisements